Pemanfaatan Jambu Mete Sebagai Sumber Energi Terbarukan (Bioetanol)
2009-05-08 13-54-50_0253 thumbOleh Tarno, S.Pd, SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang
Jl. Raya Kaligawe Km. 4 Semarang
Telp. 024 – 6595280

Pendahuluan

Latar belakang

Seiring dengan perkembangan penduduk dan perkembangan ekonomi yang semakin pesat menuntut kebutuhan bahan bakar yang semakin besar pula, sementara jumlah energi fosil dunia semakin menipis. Keadaan ini menuntut pemerintah untuk mengembangkan sumber energi terbarukan yang menurut penelitian lebih ramah lingkungan. Dan melalui ide pemanfaatan jambu mete sebagai sumber energi terbarukan merupakan penyedia karbohidrat yang murah yang dapat dijadikan sumber energi terbarukan dalam pembuatan bioetanol.

Tujuan

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membuat bioetanol dari buah jambu mete serta untuk mengetahui perbandingan massa jambu mete dengan bioetanol yang dihasilkan, juga mengetahui nilai kalor bioetanol jika dibandingkan dengan minyak tanah.

Pelaksanaan program2009-05-08 13-53-34_0251x thumb

Pelaksanaan program terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1. Persiapan bahan baku yang terdiri:
a. Proses pemecahan tepung menjadi gula kompleks ( liquefaction ), proses ini selesai ditandai dengan bubur yang diproses menjadi lebih cair seperti sup.
b. Sakarifikasi yaitu pemecahan gula kompleks menjadi gula sederhana.
c. 50 kg buah jambu mete segar yang diblender, saring utk memperoleh bubur jambu mete, lalu tambahkan air 40-50 lt aduk sambil dipanasi.
d. 1.5 ml enzym alfa-amilase, panaskan selama 30-60 menit pada suhu 900 C.
e. Dinginkan hingga suhu mencapai 55-600 C selama 3 jam, lalu dinginkan hingga suhu dibawah 350 C.

2. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa & sebagian fruktosa) difermentasi menggunakan ragi dalam tangki fermentasi pada suhu 27-320 C selama 3 hari utk menghasilkan larutan beer yang mengandung etanol. Fermentasi yang berhasil ditandai dari aroma berupa tape, suara gelembung gas yang naik keatas, dan keasaman (PH) diatas 4.

3. Distilasi / Penyulingan
Distilasi adalah cara pemisahan campuran berdasarkan perbedaan titik didih. Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer air. Titik didih etanol murni adalah 780 C sedangkan air adalah 1000 C. Dengan memanaskan larutan pada suhu 780 C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan mengembun menghasilkan etanol cair dengan kadar 90% volume.

4. Pemurnian Bioetanol dengan batu Gamping
Pemurnian bertujuan untuk meningkatkan kadar bioetanol dari 90% menjadi 99%. Dalam percobaan ini digunakan batu gamping yang bersifat higroskopis untuk menyerap molekul air yang terlarut dalam bioetanol.

2009-05-08 13-59-04_0250x thumb5. Pengujian pembakaran minyak tanah dan bioetanol
Bioetanol yang diperoleh kandungan nilai kalornya dibandingkan dengan kerosin dan campuran kerosin – bioetanol, dengan cara menghitung waktu yang diperlukan untuk mendidihkan air.

  1. Isilah 3 kalori meter dengan 150 ml air.
  2. Isilah 3 pemanas spirtus masing-masing dengan 50 ml minyak tanah, 50 ml bioetanol 90%, dan 50 ml campuran bioetanol – minyak tanah 1:1.
  3. Panaskan masing-masing kalori meter dengan pemanas spirtus.
  4. Catatlah kenaikan suhu masing-masing termometer setiap 5 menit.

Profil Guru

Tarno, S.Pd

Tempat tanggal lahir :

Pendidikan :

Pekerjaan :
Guru Kimia, SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang

Satu komentar to “Pemanfaatan Jambu Mete Sebagai Sumber Energi Terbarukan (Bioetanol)”

  1. Sugino says:

    Salam pak tarno.gimana utk pembuatan bioethanol nya masih berlanjut gak?ditempat saya buah jambu mete melimpah lho pak .trims sugino 081393039888.




Tinggalkan balasan