<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menyoal Moralitas Pendidikan</title>
	<atom:link href="http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/</link>
	<description>Aksi Guru adalah salah satu program dari Citi Success Fund (CSF) dan Hope Indonesia yang bertujuan untuk mendukung ide-ide kreatif dari para guru SMA</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 May 2012 16:07:50 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.4</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Mukhsin Kurnia</title>
		<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/comment-page-1/#comment-312</link>
		<dc:creator>Mukhsin Kurnia</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 12:17:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aksiguru.org/?p=728#comment-312</guid>
		<description>Menurut saya (saya sendiri adalah masih seorang siswa SMA) keberadaan Ujian Nasional tetap harus dipertahankan, karena sesuai dengan cita-cita pendidikan, yaitu menciptakan insan-insan yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan insan-insan yang memiloiki kemauan untuk maju. Keberadaan Ujian Nasional harusnya menjadi barometer kompetensi anak didik di Indonesia - siapa yang kompeten dalam belajarnya dan siapa yang tidak. Yang harus diperbaiki dari UN bukanlah sistemnya, namun pelaksanaannya (yang masih banyak diwarnai kecurangan).

Satu lagi, menganalogikan manusia dengan spesies hewan yang berlain-lainan menurut saya bukan hal yang tepat. Karena, manusia telah dianugerahi kemampuan dasar yang sama, tinggal bagaimana manusia tersebut, apakah mau sukses atau tidak. Toh, banyak orang cacat tubuh yang jago dalam olahraga bahkan mengalahkan kita yang tidak cacat. Tidak seperti hewan yang memang tidak diberi akal, dan tidak mampu melakukan sesuatu di luar kodratnya (misal: kucing bisa terbang???????omgomgomg)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut saya (saya sendiri adalah masih seorang siswa SMA) keberadaan Ujian Nasional tetap harus dipertahankan, karena sesuai dengan cita-cita pendidikan, yaitu menciptakan insan-insan yang berkualitas dan mampu bersaing di tingkat global. Untuk mencapai standar tersebut, diperlukan insan-insan yang memiloiki kemauan untuk maju. Keberadaan Ujian Nasional harusnya menjadi barometer kompetensi anak didik di Indonesia &#8211; siapa yang kompeten dalam belajarnya dan siapa yang tidak. Yang harus diperbaiki dari UN bukanlah sistemnya, namun pelaksanaannya (yang masih banyak diwarnai kecurangan).</p>
<p>Satu lagi, menganalogikan manusia dengan spesies hewan yang berlain-lainan menurut saya bukan hal yang tepat. Karena, manusia telah dianugerahi kemampuan dasar yang sama, tinggal bagaimana manusia tersebut, apakah mau sukses atau tidak. Toh, banyak orang cacat tubuh yang jago dalam olahraga bahkan mengalahkan kita yang tidak cacat. Tidak seperti hewan yang memang tidak diberi akal, dan tidak mampu melakukan sesuatu di luar kodratnya (misal: kucing bisa terbang???????omgomgomg)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Cahyadi</title>
		<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/comment-page-1/#comment-293</link>
		<dc:creator>Cahyadi</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Mar 2010 16:59:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aksiguru.org/?p=728#comment-293</guid>
		<description>tulisan yang sangat menarik.. Saya mau belajar seprti bapak2 dan ibu2 ini thx</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>tulisan yang sangat menarik.. Saya mau belajar seprti bapak2 dan ibu2 ini thx</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: OpenIDea</title>
		<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/comment-page-1/#comment-288</link>
		<dc:creator>OpenIDea</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 17:39:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aksiguru.org/?p=728#comment-288</guid>
		<description>lha iya tah... wong yang bayar sekolah itu orng tua... pemerintah itu anggaran sedikit banget.. bwt pendidikan coba lihat RAPBS sekolah negeri ,,, hampir 50% untuk biaya gaji PNS...  sisanya sumbangan masyarakat... trus pemerintah mo ngatur2... khan nggak bener... ini cerita di sekolah negeri... apalgi di swasta yang 100% bisa dana masyarakat...

gampannya : saya yg bayar sekolah anak saya. .. eh dibuat kelini percobaan sama pemerintah... (dengan UAN dll) apa  nggak mangkel kalo anak kita sumpek dan setres gara2 UAN?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>lha iya tah&#8230; wong yang bayar sekolah itu orng tua&#8230; pemerintah itu anggaran sedikit banget.. bwt pendidikan coba lihat RAPBS sekolah negeri ,,, hampir 50% untuk biaya gaji PNS&#8230;  sisanya sumbangan masyarakat&#8230; trus pemerintah mo ngatur2&#8230; khan nggak bener&#8230; ini cerita di sekolah negeri&#8230; apalgi di swasta yang 100% bisa dana masyarakat&#8230;</p>
<p>gampannya : saya yg bayar sekolah anak saya. .. eh dibuat kelini percobaan sama pemerintah&#8230; (dengan UAN dll) apa  nggak mangkel kalo anak kita sumpek dan setres gara2 UAN?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: sri mulyaningsih</title>
		<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/comment-page-1/#comment-282</link>
		<dc:creator>sri mulyaningsih</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 07 Mar 2010 05:34:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aksiguru.org/?p=728#comment-282</guid>
		<description>Saat ini target kelulusan ikut menjadi prestasi atau gengsi para pejabat (bupati atau walikota) shg sekolah kena imbasnya, sebetulnya UNAS kan jadi standart atau parameter tetapi malah jadi siswa dan org tua gemeter takut anaknya ga lulus. sebenarnya anak2 jaman sekarang pinter2 kok tinggal bagaimana mengakomodasi mereka ke alur yg benar sesuai dg bakat dan minat mereka. tapi kalau sistem pendidikan masih seperti ini (tidak pernah mau mengambil masalah di lapangan dan pejabat2 pendidikan bukan dari bidang pendidikan) tetap aja jalan buntu. kapan ya guru bisa jadi menteri pendidikan contohnya pak arif rahman, ayah edi, dll.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saat ini target kelulusan ikut menjadi prestasi atau gengsi para pejabat (bupati atau walikota) shg sekolah kena imbasnya, sebetulnya UNAS kan jadi standart atau parameter tetapi malah jadi siswa dan org tua gemeter takut anaknya ga lulus. sebenarnya anak2 jaman sekarang pinter2 kok tinggal bagaimana mengakomodasi mereka ke alur yg benar sesuai dg bakat dan minat mereka. tapi kalau sistem pendidikan masih seperti ini (tidak pernah mau mengambil masalah di lapangan dan pejabat2 pendidikan bukan dari bidang pendidikan) tetap aja jalan buntu. kapan ya guru bisa jadi menteri pendidikan contohnya pak arif rahman, ayah edi, dll.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ary widi kristiani</title>
		<link>http://aksiguru.org/2010/03/01/menyoal-moralitas-pendidikan/comment-page-1/#comment-276</link>
		<dc:creator>ary widi kristiani</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Mar 2010 05:55:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://aksiguru.org/?p=728#comment-276</guid>
		<description>Setuju pendidikan berpusat pada anak, namun ingat juga fungsi pendidikan adalah mengajarkan asas Universal, mandiri, Prestasi dan Spesifitas. Tetapi secara standart mutu ada parameter-parameter yang  ditentukan untuk mengukur kualitas pendidikan suatu bangsa dan perlu dikomunikasikan dua arah. Oleh karena itu pendapat saya tidak perlu gengsi suatu sekolah harus 100 % lulus dengan menghalalkan segala cara. Di negara majupun masih menyelenggarakan uji nasional, namun cara berpikirnya berbeda dengan kita kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mencari prosentase kelulusan (gengsi), bukan proses pendidikan yang diutamakan. Oleh karena itu perlu di pahami filosofinya uji Nasional. Lebih lanjut bagi penyelenggara uji nasional baik pembuat soal dan kunci harus lebih kompeten dalam teknik dengan mempertimbangkan kemajemukan masyarakat. Tidak hanya itu bagaimana evaluasi, dan kontrolingnya pelaksanaannya. Karakter Kejujuran &amp; integreted menjadi modal. Sukses selalu Bapak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Setuju pendidikan berpusat pada anak, namun ingat juga fungsi pendidikan adalah mengajarkan asas Universal, mandiri, Prestasi dan Spesifitas. Tetapi secara standart mutu ada parameter-parameter yang  ditentukan untuk mengukur kualitas pendidikan suatu bangsa dan perlu dikomunikasikan dua arah. Oleh karena itu pendapat saya tidak perlu gengsi suatu sekolah harus 100 % lulus dengan menghalalkan segala cara. Di negara majupun masih menyelenggarakan uji nasional, namun cara berpikirnya berbeda dengan kita kebanyakan masyarakat Indonesia hanya mencari prosentase kelulusan (gengsi), bukan proses pendidikan yang diutamakan. Oleh karena itu perlu di pahami filosofinya uji Nasional. Lebih lanjut bagi penyelenggara uji nasional baik pembuat soal dan kunci harus lebih kompeten dalam teknik dengan mempertimbangkan kemajemukan masyarakat. Tidak hanya itu bagaimana evaluasi, dan kontrolingnya pelaksanaannya. Karakter Kejujuran &amp; integreted menjadi modal. Sukses selalu Bapak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

