”Ludruk” – Budaya Surabaya yang Terpinggirkan.

Oleh : Supri Harwanto S.E

SMA Kawung 2

Salah satu dari 10 Ringkasan Program Terbaik

Citi Success Fund  2004

Ludruk - Supro Harwanto S.E - SMA Kawung 2 Sby

Bermula dari masyarakat yang telah mengalami pergeseran budaya, dan sebagai upaya untuk melestarikan budaya bangsa, Supri Harwanto mencoba memperkenalkan kesenian tradisional Luduk kepada siswanya.

Para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dan kemudian diberikan pengarahan tentang tugas masing-masing kelompok, yang antara lain: melakukan studi pustaka tentang ludruk, menggali informasi dan inventarisasi tentang seniman ludruk. Dan siswa diwajibkan melaporkan hasil temuan mereka.

Siswa juga diajak menonton Kesenian Ludruk melalui media VCD di sekolah, dan mendiskusikannya.

Dari studi pustaka dihasilkan laporan tentang Sejarah Ludruk dan Perkembangan Ludruk di Jawa Timur. Sedangkan dari informasi yang didapat, siswa menyimpulkan bahwa pelestarian mengalami hambatan antara lain karena minimnya pendapatan seorang pemain ludruk. Dalam satu malam pementasan, para pemainn ludruk hanya mendapat Rp.100.000 hingga Rp.300.000, pendapatan ini kemudian dibagi dengan jumlah anggota ludruk sebanyak 40 orang, maka setiap pamain ludruk hanya mendapat kurang lebih Rp.3000 saja.

Menurut hasil diskusi siswa, salah satu pemecahan masalah dari langkanya ludruk adalah dengan memperbanyak ajang festival kesenian daerah.

Dengan adanya kegiatan ini, siswa menumbuhkan rasa cinta tanah air, dan bagi guru kegiatan ini dapat dijadikan alat menjalin komunikasi dengan siswa sehingga siswa merasa dihargai.

Tinggalkan balasan