Ruddy Budiyanto Danuraharjo S.Pd
Staff Pengajar Bidang Studi KIMIA di SMA Sedes Sapientiae Semarang
Hp. 08122513734 ; e-mail: [email protected]
PENDAHULUAN
Kegiatan belajar mengajar adalah bentuk peyelenggaraan pendidikan, memadukan secara sistematis dan berkesinambungan kegiatan pendidikan di dalam dan di luar lingkungan sekolah, dalam menyediakan ragam pengalaman belajar.
Kenyataannya, selama ini transformasi hanya satu arah dari guru ke siswa, hal ini belum dapat secara efektif memecahkan masalah sehari-hari
Dengan adanya tuntutan keluaran pendidikan harus dapat menyelesaikan masalah sehari-hari, sistem dengan nuansa KTSP, memberikan jawaban, siswa harus dilibatkan secara aktif, secara individu ,dalam membangun pengetahuan/gagasan baik didalam maupun diluar lingkungan sekolah
PENGELOLAAN BELAJAR MENGAJAR EFEKTIF , KREATIF & INOVATIF
- PENCAPAIAN KOMPETENSI INDIVIDUAL SISWA
- Pembalikan makna belajar
- Bepusat pada siswa
- Belajar dengan mengalami
- Mengembangkan keterampilan sosial, kognitif dan emosional
- Mengembangkan keingintahuan dan berfitrah ber- Tuhan
- Belajar sepenjang hayat
- Perpaduan kemandirian dan kerja sama
- PENGELOLAAN TEMPAT BELAJAR
Meliputi pengelolaan benda/ obyek yang ada dalam ruang belajar ( kelas ) seperti, meja, kursi, papan tulis, atau perabot lainnya dan sumber belajar - PENGELOLAAN SISWA
Memberi peluang siswa untuk:
- Mempelajari materi yang berbeda
- Berkreasi sesuai minat dan motivasi
- Belajar sesuai dengan kecepatan yang dimiliki
- Mencapai kompetensi yang maksimal
- Mempresentasikan hasil karyanya
- Menguasai materi berdasar perspektifnya
- PENGELOLAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan pembelajaran yang baik memungkinkan siswa untuk:
- Gembira dan berfikir positif
- Melakukan sendiri termasuk inovasi
- Merasa tertantang untuk maju
- Mengerti dengan baik tentang mengapa dan bagaimana sesuatu
- Mendapatkan pujian bila berpretasi dan benar dan mengakui/toleransi bila salah dan memaklumi untuk pengalaman
- Individualitas, namun tetap melakukan kerjasama kelompok
- Berperan meningkatkan hubungan antara guru dan siswa
- Belajar merupakan suatu kebutuhan bukan paksaan dan dilakukan dengan senang
- PENGELOLAAN MATERI PEMBELAJARAN
1. Harus tersedia rencana operasional KBM dalam wujud silabus
2. Pembelajaran sebaiknya dirancang secara terpadu dengan menggunakan tema sebagai pemersatu
- PENGELOLAAN SUMBER BELAJAR
KBM akan berhasil dengan baik bila pengelolaan pembelajaran maupun manfaat sumber belajar baik, baik secara fisik maupun suasana psykologis, maupun sumber daya lingkungan
( sekolah sebagai bagian integral masyarakat )
- MODEL PEMBELAJARAN KREATIF DAN INOVATIF
‘Cooperative Learning’ ( CL )
- Paradigma Guru sebagai ” Knowledge transformator ” telah bergeser menjadi “ knowledge facilitator’
- Maka Guru perlu meningkatkan /memperkaya pengetahuan /keterampilannya terutama dalam methode dan srategi pembelajaran, yang berkembang saat ini dengan cepat seiring dengan lajunya teknologi.
- Model pembelajaran ‘Cooperative Learning’ ( CL ) , sangat menarik untuk dikembangkan ,karena CL berbasis kerjasama antar individu dalam kelompok dan saling ketergantungan
- Model CL dapat memberikan pengalaman belajar dan kecakapan Hidup ( life skill ), terbukti mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa
TUJUAN
Model pembelajaran Cooperative Learning, sebagai model pembelajaran alternatif dalam konteks inovasi pembelajaran, dengan tujuan:
- Menambah wawasan Guru tentang model-model pembelajaran, sesuai dengan tuntutan KTSP
- Meningkatkan kompetensi Guru dalam pengelolaan pembelajaran
- Memotivasi Guru dalam memfasilitasi pengelolaan pembelajaran efektif
PENGERTIAN
Cooperative learning ( CL )
adalah pembelajaran bersama-sama dalam suatu kelompok dengan jumlah anggota antara tiga sampai lima orang siswa , para anggota saling bekerja sama dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas yang diberikan guru.
Dimana menurut beberapa pakar seperti :
Kagan: ada 4 prinsip dasar , yaitu : 1.Interaksi yang simultan,2.Saling ketergantungan antar anggota,3.Tiap individu memiliki tanggung jawab,4.Peran serta anggota seimbang
Stavin: meliputi tiga konsep utama, yaitu :1.Pengakuan kelompok, 2.Tanggung jawab individu, 3.Keseimbangan peluang untuk meraih sukses bersama.
Johnson: terdapat lima prinsip utama, yaitu : 1.Menumbuhkan semangat saling ketergantungan, 2. Tanggung jawab individu, 3.kesempatan seimbang, 4.Tumbuh kecakapan sosial dan bekerjasama, 5.Terjadi interaksi antar anggota secara langsung.
Manfaat Model Cl ( Cooperative Learning )
Bagi sekolah
1.Pengembangan kognitif dan afektif siswa
2.Membina hubungan baik antar agama, ras maupun suku
3.Tercapainya keseimbangan dalam pendidikan
Bagi Siswa
1.Mengembangkan kemampuan akademik
2.Mengembangkan kecakapan pribadi dan sosial
Bagi Bangsa
Menumbuhkan visi kenegaraan dan nasionalisme
Cara melaksanakan Model CL
Pelaksanaan Model Cl, diperlukan interaksi antar siswa.
- Para Siswa berdiskusi dan mengemukakan pendapatnya
- Para siswa diharapkan meningkatkan kemampuan intelektualnya
- Guru, menyiapkan LKS ( lembar kerja siswa ), memantau kerjasama kelompok, mengarahkan diskusi, memberikan bimbingan dan validasi kerja kelompok
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING
Ada sedikitnya 29 tipe model Diantaranya:
- Role Playing, Problem based intruction ( PBI ), Course review horay ( bingo ), Mind mapping, student teams achiment divisions ( Stad), team game tournament ( TGT ), jigsaw II dan lain-lain
Model STAD terdiri 5 komponen yakni:
- Presentasi kelas
- Pembentukan tim
- Kuis
- Perubahan skor individu
- Pengakuan tim
Ada 8 fase Model CL tipe STAD
Fase 1 : Guru presentasi, memberikan materi yang akan dipelajari secara garis besar dan prosedur kegiatan, juga tata cara kerja kelompok
Fase 2 : Guru membentuk kelompok, berdasar kemampuan, jenis kelamin,ras,suku, jumlah antara 3-5 siswa
Fase 3 : Siswa bekerja dalam kelompok, siswa belajar bersama, diskusi atau mengerjakan tugas yang diberikan guru sesuai LKS
Fase 4 : Scafolding, guru memberikan bimbingan
Fase 5 : Validation, guru mengadakan validasi hasil kerja kelompok dan memberikan kesimpulan tugas kelompok
Fase 6 : Quizzes, guru mengadakan kuis secara individu, hasil nilai dikumpulkan, dirata-rata dalam kelompok, selisih skor awal ( base score ) individu dengan skor hasil kuis ( skor perkembangan ) dengan perhitungan sbb:
Perhitungan skor perkembangan
No | Skor tes | Nilai perkembangan |
1 | Lebih dari 10 point dibawah skor awal |
5 |
2 | Sepuluh hingga 1 pont dibawah skor awal |
10 |
3 | Skor awal hingga 10 point diatasnya |
20 |
4 | Lebih dari 20 point diatas skor awal |
30 |
Fase 7 : Pengahargaan kelompok , berdasarkan skor perhitungan yang diperoleh anggota, dirata-rata, Hasilnya disesuaikan dengan predikat tim
Perolehan skor dan penghargaan tim
Tipe STAD dan JIGSAW
No | Perolehan Skor | Predikat |
1 | 15 – 19 | Good team |
2 | 20 – 24 | Great team |
3 | 25 – 30 | Super team |
Tipe TGT ( team game tournament )
No | Perolehan skor | Predikat |
1 | 30 – 39 | Good team |
2 | 40 – 44 | Great team |
3 | > - 45 | Super team |
Fase 8 : Evaluasi , oleh guru
PENUTUP
Kesimpulan
EFEKTIFITAS penyelenggaraan KBM dalam penerapan KTSP, Dipengaruhi paradigma baru, Guru dari knowleged transformator menjadi knowleged facilitator.
INOVASI penyelenggaraan KBM, perlu dikembangkan dengan penerapan model-model pembelajaran CL ( cooperative learning ), yang melibatkan siswa secara aktif dan kerja sama tim, dalam menggali ilmu pengetahuan yang terus berkembang begitu cepat, informasi dari luar sekolah seperti internet sangat mendukung, karena terbatasnya bahan ajar di sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Brown, J.S., Collins, A., dan Duguid, P. 1989. Situated Cognition and The Culture of Learning. Educational Researcher, 18,32-42.
Brown, A.L., dan Palincsar, A.S.1986. Guided, Cooperative Learning and Individual Knowledge (Report No. 372). Urbana, IL: Center for the Study of Reading.
Damon, W., dan Pelps, E. 1989. Critical Distictions Among Three Approaches to Peer Education. International Journal of Educational Research, 13,9-19.
De Porter, B., Reardon, M., dan Sarah Singer-Nourie. 2001. Quantum Teaching. Bandung:Kaifa.
Dods, R. F., 1996. A Problem-Based Learning Design for teaching Biochemistry. Journal of Chemical Education, 73(3), 252-258.
Fogarty, R. 1997. Problem-based learning and other curriculum models for the multiple intelligences classroom. Arlington Heights, Illionis: Sky Light.
Forman, E.A., Cordle, J., Carr, N., dan Gregorius, T. 1991. Expertise and the Construction on Meaning in Colaborative Problem Solving. Paper presented at the 21st Annual Symposium of the Jean Peagget Society.
Mayer, R.E. 1983. Thinking, Problem Solving, and Cognition. New York: Freeman.
Olivier, K. M., 2000. Methods for develoving constructivist learning on the web. Educational Technology, Novemver-Desember 2000, pp. 5-18.
Jonassen, D.H. 1999. Designing constructivist learning environments. Dalam Reigeluth, C.M. (Ed): Instructional-design theories and models: A new paradigm of instructional theory, volume II. Pp. 215-239. New Jersey: Lawrence Erlbaum associates, Publisher.
Johnson, D.W., dan Johnson, R.T., 1989. Cooperative and Competitive: Theory and Research. Edina, MN: Interaction Book Co.
Salomon, G., dan Globerson, T. 1989. When Teams Do Not Function the Way They Ought To. International Journal of Educational Research. 13, 89-99.
Slavin, R.E. 1990. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Slavin, R. E. 1986. Learning Together. American Educator. VII/002. Summer 1986, 1-7.
Slavin, R.E. 1994. Educational Psychology, Theory and Practice. Fourth Edition. Massachusetts: Allyn and Bacon Publisher.
Sutrisno. 2006. Problem-based Learning. Dalam monograf Model-model pembelajaran Sains (kimia) inovatif. Malang:Jurusan Kimia
Tuckman, Bruce, W. 1978. Conducting Educational Research. Second Edition. New York: Harcourt Brace Jovanovich.
Nur, M., Wikandari, Prima, R., Sugiarto. 1998. Teori Pembelajaran Kognitif. Surabaya: IKIP Surabaya.
Nur, M., Wikandari, Prima, R.,. 1998. Pendekatan-pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran. Surabaya: IKIP Surabaya.
Woods, D. R. 1996. Problem-based learning: how to gain the most from PBL. Canada: McMaster University Bookstore.