Bukan idola semua orang…

Oleh: Lita Mariana*

Saya memulai perjalanan sebagai seorang guru dari halaman kosong, tanpa pengalaman mengajar. Saya tidak pernah mengambil kursus mengajar, saya tidak kuliah di institut keguruan, saya tidak pernah mengikuti pelatihan mengajar. Tidak satupun.

Saya berjalan di jalur “memberi”, karena saya meyakini bahwa mengajar, sebagian besarnya, adalah tentang berbagi: pengetahuan yang dimiliki oleh guru. Saya harus belajar setiap hari tentang apa yang akan saya ajarkan kepada murid-murid saya keesokan harinya.

Jika bisa saya akan belajar lebih, jauh lebih banyak, dengan topik yang lebih luas. Agar saya bisa berbagi lebih-lebih lagi kepada murid-murid, tidak hanya tentang apa yang tertulis di buku pelajaran (kalau hanya demikian, yang saya perlukan cukup dengan meminta mereka untuk membaca tanpa perlu mendengarkan penjelasan saya, bukan?). Dan tentu saja, berbagi pengalaman yang saya miliki.

Kemudian suatu malam saya kedapatan sedang online oleh seorang teman lama. Teman akrab. Yang sangat dekat dan telah menjadi sahabat sejati. Ia membanjiri saya dengan pertanyaan yang menggelitik, pedas, mengganggu yang ditujukan kepada saya, si penyandang predikat guru. “Kamu ini lagi ngapain sih, Ta?”. Saya pun tertegun.

Iya. Saya ini sedang apa, sih? Seharusnya saya sedang mempersiapkan murid-murid saya untuk menghadapi dunia yang buas di masa datang, ketika akan ada pekerjaan yang bahkan belum ada sekarang. Tapi saat ini saya mengerjakan apa? “Bukan ilmu atau pengetahuan yang akan membekali mereka. Yang terbaik adalah sikap mereka, nilai yang mereka pegang! Pengetahuan akan terus berubah, ilmu akan terus berkembang. Tetapi yang ada di dalam diri merekalah yang akan memandu mereka ke jalan yang benar.”

Kalimat ini menampar saya. Teman saya berani betul ‘menunjuk’ hidung saya dan berkata, “Apa-apaan kamu diskriminatif kaya gitu? Tenaga pendidik kaya begini, mau jadi apa negeri ini?”. Saya benar-benar ingin menamparnya saat itu. Andaikan dia ada di hadapan saya. Tetapi seiring dengan percakapan yang semakin dalam, saya menyadari bahwa dia benar-benar bermaksud membantu saya. Untuk menemukan kembali apa yang seharusnya menjadi tujuan saya.

Bahwa yang penting bukanlah nilai yang bagus ataupun piagam penghargaan dan pemenangan lomba, bukan seberapa banyak murid-murid dapat menyerap ilmu pengetahuan. Yang penting adalah nilai yang mereka pegang. Kemanusiaan yang ada di dalam diri mereka.

Ya, memang cukup jelas bahwa kecerdasan tidak cukup. Kecerdasan akan memudahkan seseorang mendapatkan pekerjaan atau sekolah. Tetapi yang dapat membuat mereka bertahan dan selamat adalah bagaimana mereka bersikap. Menyikapi diri, hidupnya, dan permasalahan yang diserap menjadi pengalaman yang memperkaya kehidupan.

Konsisten, itulah jawaban saya atas pertanyaan “Bagaimana usaha mereka dalam belajar?”, ketika pengumuman ITB dan UI keluar beberapa hari yang lalu, di mana banyak siswa kelas 12 sudah diterima. Murid-murid kelas 11 terpana oleh keriuhan yang ditimbulkan oleh murid-murid kelas 12 yang berlarian di gang, keluar dari perpustakaan menuju kelas, setelah melihat pengumuman secara online. “Banyak sekali yang diterima, bu! Pinter-pinter banget, ya?”.

Sikap, adalah jawabannya jika Anda pernah bertanya-tanya mengapa siswa yang nilainya rendah mendapat bantuan dari guru dan diberikan kesempatan kedua (atau ketiga atau keempat) untuk melakukan perbaikan. Mana yang Anda pilih? Murid yang cerdas tetapi sombong, atau murid yang biasa-biasa saja tetapi memiliki sikap yang baik terhadap orang lain (tidak hanya guru)? Tentunya.

Jadi saya pun berubah, dari guru yang seperti tutor, menjadi guru yang lebih seperti guru (saya masih belum menjadi guru yang baik, saya masih mencoba meniru guru yang baik). Saya berubah dari “Saya nggak peduli kalian mau ngapain, asal ujian kalian nilainya bagus” menjadi “Saya peduli apa yang kalian lakukan, dan ujian kalian juga harus bisa dapat nilai bagus”.

Ini masalahnya. Beberapa murid saya tidak menghadiri praktek di lab. Saya punya dua pilihan: 1. Saya tidak terlalu peduli. Saya hanya perlu memberi nilai kosong untuk kerja praktek. Bukan urusan saya. Jika orang tua bertanya, saya hanya perlu menunjukkan daftar hadir yang terbuka dan bebas diakses untuk siapapun yang ingin melihat. 2. Saya beri nilai kosong dan meminta mereka membuat surat pernyataan yang ditandatangani oleh orang tua siswa. Mereka tidak boleh masuk ke kelas saya sebelum surat tersebut (dan lembar kerja) diserahkan kembali kepada saya.

Anda bisa tebak pilihan mana yang saya ambil. Pilihan no. 2. Bukannya saya senang mengeluarkan siswa dari kelas. Saya TIDAK senang, bahkan ketika masih ada 2 siswa yang tidak kembali ke kelas (dan memilih ‘menikmati’ masa liburnya dari pelajaran saya), dan bisa saja orang tua mereka mengirimkan surat protes. Saya mendokumentasikan semuanya dengan baik. Tinggal tunjukkan saja faktanya dan kesimpulan bisa diambil sendiri.

Saya tidak senang melihat wajah-wajah yang kecewa. Dan saya juga tidak senang melihat wajah yang berkata “Bodo amat, mending bolos daripada masuk kelas elu”. Saya merasa sedikit kecewa dan tidak bersemangat. Saya merasa terganggu dan khawatir. Saya bilang pada suami, “Aku yakin mereka pasti nggak suka. Aku tahu kalau aku bukan, dan tidak bisa menjadi favorit semua murid. Aku juga punya pilhan yang mungkin lebih menyenangkan daripada yang satu ini.” Dia membalas, “Kamu mau jadi guru atau jadi idola?.” Skak mat.

A teacher has got to do what a teacher has got to do. Saya guru, bukan tutor. Tanpa bermaksud menyinggung para tutor. Hanya saja tutor tidak dipersalahkan seberat guru jika ada sesuatu yang ’salah’ dengan siswa dan hasil evaluasi belajarnya, kan? (jadi dimana posisi orang tua sebenarnya, ya?)

Jadi, untuk siswa-siswa yang suka membolos, coba pikir lagi. Ini untuk kebaikan kalian, bukan saya. Saya bisa saja tidak memedulikan kalian. Apa untungnya bagi saya? Saya akan lebih menikmati mengajar murid-murid yang mau mendengarkan saya daripada mereka yang hanya jasadnya saja di kelas tapi pikirannya melayang ke mana-mana, menjelajah Facebook, gelaran model gaun terbaru atau sepatu yang sedang ‘in’.

Tapi mengajar bukan hanya tentang itu. Saya akan memanggil orang tua kalian. Titik.

*) Penulis adalah guru Kimia di SMAN 8 Jakarta, dan seorang blogger aktif

7 komentar to “Bukan idola semua orang…”

  1. vay says:

    sy tentor privat SD,, bagus skali .. sy akan lebih care thdp ap yg dlakukan oleh siswa2 sy..!!! slain menemani bljr ,, sy jg mngajarkan pd mereka bgmn b’tanggung jwb pd diri sndri.. krn,, anak2 skrg lbih bgantung pd ‘mbak’nya..Hidup Guru Indonesia..!!
    more creative&innovative..!!




  2. jmoenk says:

    CSF emang oke bgt…
    kami salah satu pemenang dana CSF mersa bahagia dan bangga atas penghargaan yang telah diberikan CSF…!!!

    ..Thanks for all..




  3. Abdul Karim says:

    Selalu ada hal lain di luar cara pandang kita yang cenderung hitam putih terhadap perilaku peserta didik, semestinya kita menyadari bahwa tidak semua gaya belajar peserta didik dapat kita akomodasi di ruang kelas. Di dunia yang sangat cepat berubah ini diperlukan seorang guru yang mempunyai fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi yang tinggi, bisa jadi yang bermasalah bukan peserta didiknya tetapi gurunya. Meminjam kata2nya Alvin Toffler “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” Sangatlah mungkin jika seorang guru yang mengklaim, “Saya sudah berpengalaman mengajar 20 tahun” … sebenarnya yang terjadi adalah pengalaman mengajar satu tahun diulang 20 kali berturut-turut.
    Kalau sudah begini siapa yang tidak mempunyai “sikap”, gurunya kah atau peserta didiknya?




  4. ary widi kristiani says:

    karena semangat bertanggungjawab pada anak bangsa itulah kita sedia diajar dan berlajar bahkan rela memberikan dari talent kita. Lanjutkan pak !




  5. ary widi kristiani says:

    karena semangat bertanggungjawab pada anak bangsa itulah kita sedia diajar dan belajar bahkan rela memberikan dari talent kita. Lanjutkan pak !




  6. Lita says:

    Pak Abdul Karim betul.
    Yang saya ceritakan adalah satu sudut pandang dan pak Abdul Karim membawa sudut pandang yang melengkapinya agar utuh.
    Ketika murid belajar, diajar dan dididik, guru juga introspeksi, memperbaiki diri dan senantiasa belajar :)




  7. kasmanto says:

    Guru adalah sebagai Pengajar dan Pendidik yang senantiasa mempunyai empati terhadap siswa-siswi yang menjadi anak asuhnya, agar siswa-siswi itu menjadi manusia yang sempurna. wujudkan semua itu dengan rasa ikhlas karena ALLAH saja.

    211496_100002363970769_2021644_n.jpg




Tinggalkan balasan